Home FILM Bertemu Mustakim, Mengingat Ajo Kawir

Bertemu Mustakim, Mengingat Ajo Kawir

Film Madu Murni [2022]

1
0
SHARE
Bertemu Mustakim, Mengingat Ajo Kawir

Tahun 2007. Saya membantu menyiapkan 3 proyek film digital bersama Angga Sasongko dan diberi misi untuk bertemu dengan penulis skenario Musfar Yasin.

Saya kemudian bertemu Bang Musfar, demikian saya memanggilnya, di Senayan City. Dengan dandanan yang sangat sederhana untuk penulis skenario sekaliber dirinya, tahulah saya betapa laki-laki ini adalah sosok yang tak neko-neko. Sebuah skenario diberikan kepada saya, judulnya “Tanpa Efek Samping” dan saya terperangah.

Sejak itu saya menjadi penggemar beliau. Saya menyaksikan “Madu Murni” dengan alasan jelas: ingin melihat apalagi yang akan dibahas oleh Bang Musfar di karya terbarunya. Ciri khas beliau yang selalu tercermin dalam karya-karyanya adalah kritik sosial yang tajam, sesekali satir namun menghindar dari keinginan untuk menceramahi penonton. Itu yang membuat saya dan juga banyak dari kita memuja tulisan dari peraih 3 Piala Citra itu.

“Madu Murni” adalah skenario dengan level berbeda dari Musfar. Jika biasanya ia mengobrolkan kritik sosial dalam lingkup yang lebih luas, kini ia berbicara dalam lingkup paling kecil: rumah tangga. Dan kita akan bertemu dengan Mustakim, mantan guru ngaji dengan wajah ganteng, bertubuh tinggi besar dengan rambut ala punk dan berprofesi sebagai penagih utang. Dari awal profesi masa lalu dan masa kini Mustakim sengaja dibenturkan Musfar. Dan profesi masa kini yang dijalaninya juga dibenturkan dengan prinsip yang dimiliki istrinya, Murni.

Murni adalah sosok perempuan langka yang sudah sulit ditemui dalam situasi dunia yang semakin materialistis. Ketika media lebih menyukai mengangkat cerita tentang figur publik yang memamerkan kekayaannya dibanding ilmuwan yang bekerja diam-diam di luar negeri menemukan solusi untuk sebuah masalah sistemik. Ketika media sosial kita lebih banyak berisi pameran kemewahan dan narsisme dalam tingkat yang mengkhawatirkan dibanding berbagi informasi yang lebih bermanfaat bagi sesama. Meski mengabdi sepenuh hati pada suaminya, Murni adalah sosok perempuan mandiri. Ia mengelola warung kecil di rumahnya yang membuatnya tak bergantung soal uang belanja dari suaminya. Ia berkeras hati tak ingin mencicipi uang yang diperoleh Mustakim dari menagih utang dan [mungkin] dengan mengintimidasi orang lain.

Musfar langsung bicara soal harga diri laki-laki, sesuatu yang sebenarnya tak bermasalah sama sekali bagi Murni. Ya, ia memang tak ingin menerima nafkah dari suaminya tapi tak lantas membuatnya menjadi istri yang durhaka. Segala kebutuhan suami tetap dipenuhinya dengan baik. Namun Mustakim yang tergores tak terima dan mengambil keputusan drastis: mencari cinta lain yang mungkin bisa menghargai dirinya sebagai laki-laki.

Tapi soal harga diri memang tak pernah sesederhana itu. Mustakim akhirnya menikah lagi dengan Yati dan membuat Murni hancur berantakan. Dan harga diri itu tetap tak bisa digenggam oleh Mustakim karena masalah baru: Badrun yang tak bisa “berdiri”.

Mustakim memberi kelaminnya nama, “Badrun”. Dan kita tahu sejak awal, alat kelamin itu akan menjadi masalah baru. Sebuah studi mengungkapkan laki-laki yang memberi nama alat kelaminnya kemungkinan terindikasi memang memiliki masalah seputar seksualitas. Badrun menjadi awal dari tornado yang akan menggulung kehidupan Mustakim, meski efeknya mungkin tak semerusak yang dialami Ajo Kawir.

Ajo Kawir dalam novel Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, juga mengalami masalah yang sama dengan Mustakim. Dan membuatnya menjadi tornado tak cuma dalam hidupnya sendiri, namun juga bagi lingkungan sekitarnya. Ia menjelma sebagai perusuh, laki-laki yang gemar mencari masalah dengan siapapun, seakan masalah apapun yang akan dihadapinya akan membuatnya lupa dengan masalah yang menimpa kelaminnya.

Kita mungkin pernah mengingat kata-kata dari seseorang bahwa laki-laki dikendalikan oleh 4 hal: otak, hati, perut dan alat kelaminnya. Tapi urutan ini mungkin perlu diubah bagi kasus Mustakim dan Ajo Kawir. Masalah alat kelamin ini menjadi krusial karena terkait dengan 1 hal yang teramat penting bagi laki-laki: harga diri.

Laki-laki dan harga diri. Persoalan klasik. Tapi selalu bisa menjadi potensi masalah. Harga diri yang tergores bisa membuat seseorang melakukan hal-hal di luar dugaan seperti Mustakim yang tiba-tiba memutuskan menikahi Yati. Ia mencoba menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru. Musfar jeli melihat hal itu dari perspektif laki-laki namun tidak dengan melakukan glorifikasi. Ia justru bersimpati pada perempuan seperti Murni yang hidupnya dihantam tornado yang diciptakan Mustakim namun selalu mengingat kodratnya sebagai istri yang berbakti pada suami. Diam-diam, karena Musfar pula, kami para lelaki ini memimpikan istri seperti Murni dengan segudang maaf yang dimilikinya. Tapi tak seorangpun laki-laki ingin bernasib seperti Mustakim dan Ajo Kawir. Ya itulah, kami para laki-laki ini selalu menginginkan yang terbaik tapi kadang tak sadar bahwa baik-buruk itu selalu bergandengan tangan dalam hidup.

Harga diri laki-laki. Badrun. Poligami. Dan saya tahu Musfar Yasin akan kembali datang mengejutkan kita dengan cerita-cerita lainnya di masa yang akan datang.

 

MADU MURNI

Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Sutradara: Monty Tiwa

Penulis Skenario: Musfar Yasin

Pemain: Ammar Zoni, Irish Bella, Aulia Sarah

Video Terkait: