Home FILM Haruskah Biopik Hanya Menjadikan Tokoh Utamanya Seorang Pahlawan?

Haruskah Biopik Hanya Menjadikan Tokoh Utamanya Seorang Pahlawan?

Film Marty Supreme [2025]

11
0
SHARE
Haruskah Biopik Hanya Menjadikan Tokoh Utamanya Seorang Pahlawan?

Tahun 2019. Saya ke luar dari bioskop dengan kening berkerut. Saya baru saja menyaksikan film Susi Susanti: Love All dan merasa tak puas. Oke lah film tersebut baik dari banyak segi namun mengapa tokoh utamanya digambarkan nyaris seperti pahlawan yang tak punya kelemahan?

Dalam banyak film biopik yang diproduksi di negeri ini seolah-olah tabu untuk menjadikan karakter utamanya seorang manusia dengan segala aib dan lemahnya. Dan menurut saya film yang diproduksi dengan pendekatan sedemikian akan sangat membosankan. Saya menonton Susi Susanti: Love All dan ke luar dari bioskop tanpa bisa memahami lebih jauh tentang Susi yang tak pernah diberitakan di koran atau diperlihatkan di televisi.

Berbeda dengan ketika saya menyaksikan Marty Supreme garapan Josh Safdie. Setelah terpukau selama 149 menit, saya lantas mencari tahu lebih jauh. Dan tahu lah saya bahwa Marty bukanlah karakter fiksi. Josh mendasarkan kisahnya dari memoar seorang pemain pingpong betulan bernama Marty Reisman. Ia seorang warga New York yang pernah menjuarai 22 pertandingan dari tahun 1946 hingga 2022 termasuk US Open dan British Open. Memoir itu disodorkan oleh istri Josh dan membuatnya ingin memfilmkannya.

Tapi Josh tak berniat untuk mengadaptasi memoir itu. Meski sebagian besar kisah dalam memoar dan film punya kemiripan namun Josh terutama menjadikan kelemahan Marty sebagai senjata utama. Marty asli bahkan dijuluki oleh majalah Time terbitan tahun 1974 sebagai “penipu sepanjang masa”. Dan bisa jadi itulah yang membuat hasrat Josh menggelora untuk memperkenalkan kembali sang juara ini ke seluruh dunia. Marty Supreme adalah seorang anak muda, atlit pingpong, penipu, juga laki-laki yang tak bertanggung jawab. Dengan karakterisasi sedemikian, seperti halnya Josh, susah rasanya untuk tak jatuh hati pada kisah ini.

Dan Timothee Chalamet adalah pilihan yang tepat untuk menjadi Marty Mauser. Dengan penampilan yang berubah drastis, kita melihat Timothee menghilang ke dalam perannya. Ia menjadi Marty yang bisa sangat menawan namun di lain waktu juga bisa menjadi super menyebalkan. Tak banyak aktor yang bisa memainkan karakter senyentrik Marty namun masih bisa membuat kita ingin melihatnya meraih impiannya. Peran dengan jangkauan seluas Marty akan susah sekali dimainkan oleh aktor yang terlalu takut untuk tampil jelek.

Meski karakterisasi Marty Mauser terasa rumit namun sesungguhnya premis film ini cukup sederhana. Marty hanya ingin membalas kekalahannya atas pemain Jepang, Endo Koto. Sepintas sederhana namun untuk Marty yang berasal dari keluarga sederhana, tak mudah untuk membiayai perjalanannya ke Tokyo untuk balas dendam. Di sinilah kejahilan Josh yang memelintir memoar Marty asli dan menjadikan pertarungan Marty dan Endo seberharga Perang Dunia II. Mereka yang punya referensi bagaimana Amerika memborbardir sekaligus meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki akan tersenyum melihat [sekaligus membayangkan] bagaimana rasanya menjadi orang Amerika yang ditaklukkan orang Jepang.

Josh membawa kita masuk ke dunia Marty yang kaotik, super cepat, penuh keberuntungan sekaligus kesialan dan juga seringkali mengejutkan. Di tangan sinematografer kampiun, Darius Khondji, kita melihat gambar demi gambar yang terus bergerak selincah bola pingpong tapi ajaibnya tak memusingkan. Kita melihat Marty yang terus berlari yang seakan menjadi metafora dari dirinya yang juga terus berlari mengejar impiannya yang kadang terasa malah menjauh. Sesekali Marty beruntung namun lantas menjadi bunting. Seringkali Marty tak bisa mengelak dari kesialan demi kesialan yang terus mengikutinya. Tapi kita sebagai penonton ingin melihat Marty memenangkan mimpinya.

Marty Supreme terasa semakin kaotik dengan racikan musik yang menggetarkan dari Daniel Lopatin. Sebuah keajaiban sinema ketika melihat adegan berkelindan harmonis dengan musik. Karena seringkali musik terasa berlebihan ketika dipasangkan dengan adegan yang sesungguhnya kurang bernyawa. Musik dianggap bisa menyelamatkan adegan demi adegan dalam film padahal tentu saja fungsi musik tak sesederhana itu. Saya tercengang ketika tahu bahwa racikan musik Daniel di sini tak dilirik Academy Awards tahun ini.

Berbicara soal Academy Awards tahun ini, susah betul rasanya melihat piala Oscar tak dibawa pulang oleh Timothee yang sudah gagal sebanyak dua kali masing-masing untuk film Call Me By Your Name [2018] dan A Complete Unknown [2025]. Dedikasinya untuk peran ini luar biasa. Kita melihat bagaimana adegan demi adegan Marty bermain pingpong terasa bernyawa karena kita melihat Timothy memainkannya sendiri tanpa bantuan pemain pengganti [stunt double]. Karenanya Josh pun tak setengah-setengah memperlihatkan pertandingan pingpong yang brutal, menekan dan berjalan dengan durasi cukup panjang. Dan karenanya pula emosi Timothy terasa realistis karena ia merasakan langsung frustrasinya, merasakan langsung jatuh bangunnya dan merasakan langsung bagaimana rasanya dipermalukan oleh seorang atlet antah berantah.

Setelah menyaksikan Marty Supreme, saya membuka kembali dokumen lama yang saya tulis lebih dari 10 tahun lalu tentang pesepakbola legendaris asal Makassar, Ramang. Saya mulai menulis adegan awal yang memperlihatkan Ramang yang frustrasi ketika dituduh disogok saat bermain melawan Persebaya. Saya tak ingin kelak membuat biopik yang runut dan terlalu takut mengekspos kelemahan-kelemahan dari karakter utamanya. Dari Marty Supreme kita belajar bahwa justru kelemahan-kelemahan itu yang membuat si karakter dicintai oleh penonton.

 

MARTY SUPREME

Produser: Ronald Bronstein, Eli Bush, Timothee Chalamet, Josh Safdie, Anthony Katagas

Sutradara: Josh Safdie

Penulis Skenario: Ronald Bronstein, Josh Safdie

Pemain: Timothy Chalamet, Odessa A’zion, Gwyneth Paltrow

Video Terkait: