Tahun 2019. Saya menyelesaikan produksi sebuah serial untuk layanan streaming dan penulis Ahda Imran mempublikasikan salah satu cerita pendek terbaiknya di Kompas berjudul Pembunuh Terbaik.
Mari berkenalan dengan tokoh Aku. Ia yang dibebaskan dari jeratan hukuman mati untuk masuk ke jeratan berikutnya: ditahbiskan menjadi mesin pembunuh. Tokoh Aku menyenangi tugas membunuh seseorang yang diisyaratkan oleh Bapak. Isyarat itu sesungguhnya tak pernah jelas namun juga tak kabur sepenuhnya. Tapi tokoh Aku dan Bapak sama-sama mengerti, juga sama-sama membutuhkan.
Tokoh Aku dan Bapak bertemu dalam sebuah situasi politik. Sementara Barry dan Fuches bertemu dalam situasi nyaris serupa: pulang dari peperangan yang menggerogoti jiwanya, Barry tak punya seorangpun tempatnya berpaling. Hingga muncul Fuches yang memanipulasi dirinya dan juga menjadikannya mesin pembunuh.
Tapi Barry bukan Aku. Ia membunuh semata karena uang walau Barry selalu dengan naif mengira dirinya bagian dari orang-orang baik yang membersihkan dunia dari sesaknya orang-orang jahat. Dan Barry tahu bahwa suatu hari, pada waktu dan kesempatan yang tepat, ia akan menemukan jalan keluar.
Dan jalan keluar itu bernama akting. Saya menemukan jalan keluar berupa film pada saat sedang bosan-bosannya mengikuti pendidikan menjadi dokter yang melelahkan di awal tahun 2000-an. Dan seperti Barry, saya merasa terbebaskan. Saya merasa bertemu dengan dunia yang telah lama saya impikan.
Apa itu akting? Setelah bekerja sebagai produser film profesional sejak 2011, saya menyadari bahwa akting itu bukan berpura-pura. Tapi sebuah metode bagaimana seorang aktor mencari hal-hal yang menyenangkan sekaligus paling buruk dalam dirinya sendiri dan dituangkannya ke dalam karakter yang akan diperankannya. Seorang aktor berupaya mencoba cara apapun agar ia bisa menjadi jujur terhadap karakter yang dipercayakan padanya. Sementara Jean-Paul Sartre melihat akting dengan sudut pandang yang mirip, “akting adalah masalah menyerap kepribadian orang lain dan menambahkan beberapa pengalaman Anda sendiri.”
Barry menutup rapat kehidupan pribadinya. Ia tak ingin seorangpun tahu bahwa ia melakukan pekerjaan membunuh untuk menghidupi dirinya. Ia juga berkelit dari pengalaman sebelumnya ketika menjadi seorang tentara di Afganistan dan membunuh warga tak bersalah. Tapi menjadi aktor berarti membuka lapis demi lapis dari kehidupan pribadinya kepada orang lain untuk memperkaya karakter yang akan dimainkannya. Apa yang harus dilakukannya?
Di masa ketika media sosial menjelma menjadi semacam medium eksibisionisme, sosok Barry tentu bukan favorit. Ia menolak untuk berbagi bagian dari kehidupan ganda yang dijalaninya. Ia memilih hanya memperlihatkan bagian dari kehidupan yang diinginkannya: menjadi seorang aktor. Tapi bukankah kita semua demikian? Kita menyunting hidup kita di media sosial, hanya memperlihatkan bagian-bagian terbaik dan menyembunyikan borok-boroknya rapat-rapat. Kita menjelma menjadi seorang serba sempurna dengan kehidupan pernikahan bahagia, anak-anak yang menyenangkan, pekerjaan yang stabil sambil sesekali pelesir dan berbelanja di tempat yang wah.
Sosok Barry, yang bisa ditonton dalam serial “Barry” yang tayang di HBO GO, bukan hanya ingin menyunting hidupnya tapi ia ingin melenyapkan masa lalunya. Membuangnya jauh-jauh. Mengubur identitas Barry Brekman dan menjelma menjadi Barry Block seutuhnya. Seseorang yang menyenangkan, selalu supportif dan punya kehidupan normal. Tapi apakah normal itu?
Bagi sebagian orang, menjadi normal adalah sekolah, kuliah, bekerja, berkeluarga dan memiliki anak. Barry sebagaimana saya adalah sedikit dari mereka yang berada di luar “pengertian” itu. Saya memiliki anak di usia 32 secara tak terduga. Saya hampir percaya hidup saya akan berakhir di usia 40. Tapi pada akhirnya, bagi orang-orang seperti Barry dan saya, normal selalu bisa didefinisikan masing-masing.
Saya percaya pada kesempatan kedua, sebagaimana Barry. Ia mati-matian mempercayai itu dan rela membuang “karirnya sebagai pembunuh profesional” begitu saja. Pada akhirnya ia juga ingin dilihat normal sebagai orang-orang pada umumnya. Tapi bisa saja Barry tak akan pernah normal sebagaimana ukuran mayoritas orang-orang, sebagaimana juga saya dan Anda yang membaca tulisan ini.
Mungkin pada akhirnya yang kita cari dari hidup adalah satu hal: ketenangan hati. Barry mendapatkannya dari berakting, sebuah kesempatan menarik ketika kita dibayar untuk menjadi orang lain. Saya mendapatkannya dari menjadi sutradara yang dibayar untuk bercerita tentang apa saja yang mungkin pernah saya alami dan rasakan.
Hidup adalah tentang mengalami. Kita mengalami beragam pengalaman buruk, juga trauma untuk menguatkan kita. Kita juga berhak untuk menikmati sendiri pengalaman-pengalaman pahit itu dan menumpahkannya menjadi akting atau menjadi sebuah film. Pada akhirnya ia memang tak sepenuhnya menjadi pengalaman hidup kita namun perubahan wujud itu mungkin menjadi transformasi bagi seseorang untuk bercermin mengenali dirinya sendiri. Mungkin karena pada akhirnya Barry, sebagaimana sebagian orang, adalah kita.
BARRY
Produser: Emily Heller, Julie Camino, Jason Kim, Johnnie Brady
Sutradara: Bill Hader, Alec Berg, Hiro Murai, Maggie Carey, Liza Johnson, Minkie Spiro
Penulis Skenario: Alec Berg, Bill Hader, Duffy Bodreau, Taofik Kolade, Emma Barrie, Emily Heller, Elizabeth Sarnoff, Jason Kim, Ben Smith, Sarah Solemani
Pemain: Bill Hader, Stephen Root, Sarah Goldberg


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY