“Kau tahu, kesetaraan adalah mitos. Untuk beberapa alasan, semua orang menerima kenyataan bahwa perempuan tidak menghasilkan uang sebanyak pria. Aku tidak mengerti itu? Mengapa kita harus berada di belakang?”
[Beyonce – Majalah GQ edisi Februari 2013]
Tahun 2013. Saya mempersiapkan produksi film “Hijabers in Love”. Berkisah tentang dua orang remaja perempuan dengan problematikanya masing-masing. Sebuah film yang menempatkan perempuan sebagai sosok sentral. Dan saya merasa sah sebagai pelaku kesetaraan.
Tapi ternyata hal itu tak semudah yang dibayangkan. Saya tetap laki-laki. Dalam beberapa hal, saya menikmati sejumlah privilege berbasis jenis kelamin. Dalam satu hal saya didahulukan, dalam hal lain saya diutamakan.
Maka saya melihat bahwa dunia semakin ideal dan kita semakin peduli dengan isu kesetaraan. Tapi betulkah peduli setara dengan melakukannya? Dan apakah betul kepedulian kita mendorong kita untuk menerapkan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari?
Ternyata saya salah. Kesetaraan kadang masih terdengar seperti omong kosong. Kata-kata indah yang selalu disenandungkan agar yang satu menunduk dan terdiam dan tak bersuara lagi. Ruben Ostlund menggunakan platform yang paling dikenalnya untuk mengkritik soal kesetaraan yaitu film.
Oh yes, Ruben tak hanya memuntahkan uneg-unegnya soal kesetaraan. Ia juga membahas soal patriarki dan kapitalisme dalam segitiga ceritanya di film “Triangle of Sadness” yang bisa ditonton via Klikfilm. Dan hanya Ruben seorang mungkin sutradara di dunia ini yang bisa mengobrolkan tiga isu penting itu dalam sebuah cerita ringan, dituturkan dengan asyik, tak bikin kening berkerut, membuat kita tersenyum sekaligus merasa tertampar di saat bersamaan.
Pemenang Palme d’Or Cannes Film Festival 2022 ini layaknya sebuah esai yang ditulis dengan gaya jurnalisme sastrawi oleh seorang penutur yang brilyan sekaligus tekun dan punya kadar humor luar biasa. Ia tak saja brilyan namun punya kemampuan menertawakan banyak hal tanpa merasa perlu menceramahi penonton. “Triangle of Sadness” adalah sebuah komedi tentang tiga pilar kehidupan dimana kita berada saat ini.
Mari bertemu dengan Yaya dan Carl. Ruben memperkenalkan karakter Carl dengan brilyan melalui sesi kasting model. Di sela-sela kasting, seorang presenter menghadap ke kameranya asyik mengomentari kesetaraan walau nyinyir bin nyelekit. Ia mengobrolkan soal kesetaraan yang tak didapatkan para model pria dimana mereka mendapatkan bayaran hanya sepertiga dari yang diperoleh model perempuan.
Kesetaraan lantas dibawa oleh Ruben ketika cerita berpindah ke kapal pesiar mewah dimana Yaya dan Carl berinteraksi dengan para orang kaya. Disini ia mulai menyinggung soal kapitalisme. Bagaimana para orang kaya merasa berkuasa dengan uangnya dan merasa bebas memerintahkan apapun yang diinginkannya. Seorang istri pengusaha kaya Rusia meminta seluruh kru kapal untuk mencoba seluncuran air di tengah jadwal kerja mereka. Dan sebagai bentuk pelayanan yang baik, mereka semua tak punya kuasa untuk menolak permintaan ajaib tersebut.
Lalu Ruben membawa kita ke bagian ketiga ceritanya dimana ia mengolok-olok soal patriarki. Rupanya kapal pesiar mewah tersebut dibajak dan lantas meledak. Sejumlah penumpang kapal selamat termasuk Abigail, seorang manajer toilet. Di tengah pulau tak berpenghuni mereka terdampar namun hanya Abigail seorang yang punya keterampilan mendapatkan makanan dari laut. Maka Abigail dengan serta merta meruntuhkan patriarki dan membuat laki-laki kaya yang selamat harus menghamba dan mengikuti perintahnya. Jika tak mengikuti keinginannya, para laki-laki itu akan kelaparan dan mungkin mati.
Dalam kapasitas maksimal, “Triangle of Sadness” mengobrolkan banyak hal dalam takaran yang mantap. Tak berlebihan, terasa pedas di beberapa bagian dan mengenyangkan setelah menyantapnya hingga ludes tak bersisa. Dan setelah menonton film ini, mungkin kita akan melihat kembali bagaimana kita memandang kesetaraan, patriarki dan kapitalisme dengan cara yang sama sekali berbeda.
TRIANGLE OF SADNESS
Produser: Philippe Bober, Erik Hemmendorff
Sutradara: Ruben Ostlund
Penulis Skenario: Ruben Ostlund
Pemain: Charlbi Dean, Harris Dickinson, Dolly De Leon


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY