Home FILM Pulang Adalah Perkara Rindu

Pulang Adalah Perkara Rindu

Film Cross the Line [2022]

1
0
SHARE
Pulang Adalah Perkara Rindu

Tahun 2005. Diam-diam saya memutuskan hijrah ke Jakarta. Diam-diam saya memutuskan membuka lembaran baru hidup saya di ibukota. Dan diam-diam ayah saya selalu merindukan kepulangan saya.

Ada saat dalam hidup dimana kita memutuskan untuk pergi. Mencoba mengadu nasib. Mencoba berjudi dengan takdir. Dan mencoba menguatkan hati untuk bisa mengalahkan masa depan. Tapi kita tahu pergi berarti akan selau merindukan kepulangan. Untuk kembali bertemu hal-hal yang tertinggal dan ditinggalkan. Untuk kembali menyelesaikan hal-hal yang belum selesai.

Dan kita tahu bahwa perjuangan baru saja dimulai. Kita paham bahwa saatnya kita untuk mengecap dunia yang sesungguhnya. Tak ada lagi rumah yang nyaman yang selalu terbuka untuk kita. Tak ada lagi teman-teman lama yang selau menghibur di kala susah. Dan kita kehilangan kasih sayang keluarga yang selalu akan menerima kita di saat paling berat sekalipun.

Saya belum pernah menjalani hidup seperti Haris dan Maya di film “Cross the Line” yang tayang di Klik Film. Saya belum pernah menjalani hidup sebagai anak buah kapal, yang mesti menyogok sekian puluh juta untuk bisa bekerja dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk bergulat dengan pekerjaan dan dosa-dosa. Saya belum pernah menjalani hidup sebagai petugas kebersihan di kapal yang juga menyambi sebagai pelayan restoran demi mengumpulkan uang untuk membayar utang dan denda yang menggunung. Tapi saya tahu rasanya bagaimana bekerja sedemikian kerasnya sehingga pulang terasa seperti ilusi.

“Cross the Line” adalah sebuah upaya menarik dari Razka Robby Ertanto untuk menyajikan cerita berbeda dari kebanyakan film Indonesia. Sebuah inisiatif yang perlu diapresiasi untuk menyajikan kehidupan kelas pekerja yang sebagian besar dari kita tak tahu seperti apa. Kita sudah bosan menyaksikan cerita cinta yang begitu-begitu saja di bioskop, kita jenuh menonton kisah anak-anak SMA yang semakin lama terasa semakin mudah ditebak di layanan streaming dan kita perlu memuaskan dahaga akan cerita-cerita yang segar dan menarik.

Sebagian besar dari kita digerakkan oleh impian dan harapan untuk mengubah hidup lebih baik. Terkadang dengan menempuh resiko apapun. Terkadang dengan melanggar banyak rambu, melakukan sekian dosa, bisa saja karena seseorang tak punya pilihan lain. Saya membayangkan diri saya sebagai Haris yang trenyuh dengan sang kekasih yang butuh uang 35 juta agar bisa bebas dari pekerjaan yang dilakoninya. Saya membayangkan diri saya sebagai Haris yang tak punya waktu untuk berdialog dengan dirinya sendiri sebelum melakukan dosa. Tapi saya tahu dan bisa membayangkan bahwa Haris masih punya hati nurani.

Menjadi Maya pun sama sulitnya. Seorang perempuan muda dan cantik yang rela bekerja kasar di kapal. Rela menggosok toilet penuh karat berulang-ulang hingga bersih. Hingga tiba saat dimana ia tak punya pilihan untuk keluar dari batasan yang dijaganya secara sakral. Maya berkompromi dengan hidupnya, hanya untuk satu alasan: agar bisa pulang.

Karena pulang bisa jadi adalah perkara rindu. Saya pernah di posisi Maya ketika diberitahu adik saya sedang sakit keras dan tiket pesawat ke Makassar tak terjangkau. Perih rasanya ketika berada jauh di seberang lautan dari seseorang yang kita sayangi. Dan saya ikut menangis bersama Maya yang hanya bisa menahan kerinduannya diam-diam.

Bagi Maya dan Haris, pulang tak lagi sederhana. Kadang seseorang memilih tak pulang karena merasa belum menggapai mimpi dan harapannya. Belum ada sesuatu yang bisa dibanggakannya ketika kembali ke rumah. Pulang memang bisa mengobati rasa rindu tapi ada yang lebih penting dari itu semua: keinginan untuk mewujudkan hidup yang lebih layak.

Maya dan Haris mengalahkan banyak hal dalam diri mereka. Dan kita memahami pilihan-pilihan yang mereka buat. Dan kita tak menghakimi tindakan-tindakan yang harus mereka lakukan. Mungkin kita juga akan seperti Maya dan Haris jika dihadapkan pada situasi yang sama.

Suara dari pelantang suara terdengar. Membunyikan lantunan puisi dari Jalaluddin Rumi, Saatnya Kita Pulang.

Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.

 

CROSS THE LINE

Produser: Razka Robby Ertanto, Agung Haryanto

Sutradara: Razka Robby Ertanto

Penulis Skenario: Razka Robby Ertanto, Titien Wattimena

Pemain: Shenina Cinnamon, Chicco Kurniawan, Seroja Hafiedz

Video Terkait: