Pernikahan belakangan cenderung diniliai tak dihormati, tak diagungkan seperti belasan tahun silam. Pernikahan hanya simbol bersatunya dua manusia yang saling jatuh hati untuk kemudian mengikatkan diri dalam sebuah lembaga resmi. Bagi sebagian orang, pernikahan bahkan hanya simbol legitimasi status di mata masyarakat. Dan itu terjadi di banyak negara, menjangkiti hampir separuh bumi, termasuk negeri kita yang dianggap masih menjunjung norma ketimuran. Di Amerika, kawin cerai adalah hal yang lazim. Maka ketika Doug Liman menyodorkan kisah Mr & Mrs Smith, kening kita mengerut dibuatnya. Karena di balik desingan peluru dan terjangan bom, Liman mengingatkan meski dengan cara yang keras khas film action, sedapat mungkin pernikahan layaknya dipertahankan.
Liman menyodorkan pasangan suami istri, John Smith (Brad Pitt) dan Jane (Angelina Jolie). Sekilas, mereka tampak sebagai pasangan bahagia, hidup berkecukupan dengan rumah megah dan mobil mentereng. Tapi setelah diulik–ulik, pasutri ini punya problem maha berat. Mereka ternyata berbohong satu sama lain sejak saat pertama kali bertemu. Hal ini dituturkan dengan jenaka oleh Liman adegan silang ketika John dan Jane tengah berkonsultasi pada penasehat pernikahan. Maka kisah Mr & Mrs Smithberpaling ke 5–6 tahun silam saat mereka bertemu pertama kali, pertemuan yang tak disangka-sangka. Maka pasangan yang secara fisik memang serasi ini jatuh cinta dan mabuk kepayang. Cuma butuh waktu tak sampai sebulan, mereka akhirnya menikah.
Lantas, selesaikah persoalan mereka? Tentu saja tidak, karena pernikahan adalah babak baru dalam hidup yang tak pernah bisa diprediksi. Siapa sangka, pasangan yang bisa menempuh pernikahan hingga 5–6 tahun bisa saling berbohong satu sama lain sejak awal! John dan Jane sama pandai menutup rapat–rapat sisi ‘gelap’ mereka sebagai pembunuh bayaran kelas kakap. Akhirnya, kebohongan mereka terbongkar juga.
Singkat kata, John dan Jane tahu identitas rahasia satu sama lain dan mulai saling menyerang. Karena Mr & Mrs Smith adalah film action, maka maklumi saja jika Liman mungkin terlihat sedikit kelewatan ketika menggambarkan pasutri ini saling menyerang dengan senjata dan bom di tangan. Toh, Liman bisa membuatnya dengan sentuhan komedi, sehingga nuansa humanisnya tetap terasa. Dan yang paling menarik adalah cara Liman menggambarkan hubungan benci-cinta pasangan ini membuat penonton berdebar, terhanyut, bahkan geram. Tiga rasa dicampur jadi satu tentu bisa dihasilkan dari tontonan yang pandai mengolah cita rasa.
Untuk itu Liman memang mesti berterima kasih pada pasangan Pitt dan Jolie. Reaksi kimiawi mereka berdua berpendar di layar dan membuat penonton percaya, bahwa keduanya memang memendam dua rasa yang saling bertolak belakang itu. Sesekali mereka tampak begitu padu, namun di kali lain mereka bisa saling egois, menjatuhkan satu sama lain, layaknya pasangan suami istri biasa. Jadinya meski keduanya digambarkan sebagai pasangan pembunuh bayaran mumpuni, Pitt dan Jolie juga masih bisa tampak sedemikian manusiawi sebagai suami istri biasa yang tak beda dengan pasangan kebanyakan.
‘Pertempuran’ pasangan suami istri di layar lebar memang tak inventif. Danny DeVito pernah mengolahnya dalam The War of The Roses (1989) yang sangat satir. DeVito menjadikan Michael Douglas dan Kathleen Turner sebagai pasangan yang menjadikan rumah sebagai medan pertempuran. Bedanya, cinta pasangan ‘comblangan’ DeVito ini terlihat lebih kuat, karena keduanya mampu bahu-membahu dalam menerjang senjata dan gempuran bom, di tengah pertengkaran dan pengakuan jujur mereka. Namun pasangan Smith bisa membuat rumah mereka sebagai medan pertempuran sekaligus medium rekonsiliasi. Sebuah penyajian menarik untuk kembali mencermati makna pernikahan yang sebenarnya.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY