Home FILM Perempuan Terlebih Dahulu

Perempuan Terlebih Dahulu

Film Me You Them [2000]

5
0
SHARE
Perempuan Terlebih Dahulu

Belakangan, Brazil berhasil membuat penduduk dunia memalingkan wajah padanya. Sinema Brazil berjaya di berbagai festival film bergengsi, antara lain bisa terukur dari rekognisi yang diperoleh oleh Behind The Sun (Walter Salles, 2001), Central Station (Walter Salles, 1998), dan City of God (Fernando Meirelles, Katie Lund, 2002). Jika melihat sejarah perfilman mereka, kenyataan in sebenarnya tak terlampau mengagetkan. Betapa tidak, di tahun 1953 Brazil telah menorehkan nama di ajang bergengsi Cannes Film Festival.

Tapi perfilman mereka juga sempat mati suri, seperti halnya perfilman Indonesia, sebagai akibat langsung ‘jajahan’ produk Hollywood yang menggurita. Hanya saja, Brazil tak pernah kehabisan ide mengeksplorasi kultur kebudayaan setempat dan meramunya menjadi sebuah kisah yang tak cuma unik, tapi juga orisinal.

Persoalan orisinalitas memang sangat berpeluang untuk meroketkan sebuah film. Lihatlah Secretary (2002) yang dipuji di Sundance Film Festival atas orisinalitasnya. Walaupun, formula orisinalitas juga sangat subyektif, karena toh sebenarnya bisa saja terjadi di suatu tempat, hanya tidak terekspos besar–besaran. Me You Them (judul aslinya adalah Eu Tu Eles) adalah salah satu dari sedikit film yang pantas diberi label ‘orisinal’. Karena cita rasanya tak ada duanya. Rasanya baru kali inilah ada film dengan kisah ‘sedahsyat’ ini.

Bagaimana tidak, dalam Me You Them, kita diajak memahami seorang wanita yang secara sadar ber-poliandri. Ya, Anda tak salah baca! Dan tokoh utamanya tak hanya punya dua ‘suami’, tapi tiga sekaligus! Hebatnya lagi, ketiganya tinggal seatap dan dari masing–masing suami, sang istri memperoleh satu anak. Niscaya Anda pasti terheran–heran dengan premis cerita sedemikian. Memang susah diterima akal, tapi film is about make believing. Ketika sebuah film yang dibuat bisa meyakinkan penonton semustahil apapun ceritanya, maka itu adalah film yang menarik! Terkadang film–film dengan tema besar menjadi tak meyakinkan walaupun dibantu oleh spesial efek nan canggih, karena tak berpihak pada logika. Ketika memirsa Me You Them, penonton diharapkan berpikiran terbuka menerima ide seekstrim apapun.

Bagaimana tidak ekstrim jika Darlene (Regina Case) yang bersuamikan Osias, tinggal serumah dengan dua laki–laki dewasa lainnya, masing–masing Zeninho dan Ciro. Awalnya memang tak terjadi apa–apa, tapi di tengah kesepian yang begitu rupa, di tengah himpitan hidup, Darlene bisa dengan mudah jatuh ke pelukan Zeninho yang tak lain sepupu suaminya sendiri. Dan yang lebih hebat, Ciro yang terlihat jauh lebih muda dari Darlene, toh bisa bertekuk lutut juga padanya. Padahal Darlene tak cantik, tapi ia punya hati yang ‘hebat’.

Dengan cerita seperti ini, Me You Them pun dengan gampang bisa dipersepsikan sebagai kampanye mendukung poliandri. Tapi itu hanya terlihat di permukaan semata sebenarnya. Dilihat lebih ‘dalam’, Me You Them memberi pelajaran moral yang pedas. Darlene yang tertekan perasaannya oleh Osias, mencari kebahagiaannya dengan memadu kasih bersama Zeninho. Tapi ketika ada laki–laki lain masuk dalam hidupnya, Darlene pun tak kuasa menahan diri. Maka Ciro juga jatuh dalam dekapannya. Tapi mungkin itulah Darlene yang memang bisa membagi cintanya sama rata kepada semua suami–suaminya.

Kekuatan lain Me You Them terletak pada keberanian memotret kemiskinan dengan ‘indah’. Pandanglah settingnya yang berhiaskan padang tandus, sungai yang nyaris kering namun dibingkai dengan sinematografi yang luar biasa dahsyat oleh Breno Silveira. Sepertinya miris dan takjub bisa terasakan bersamaan. Perasaan campur aduk ini juga yang akan melanda penonton jika mampu meresapi makna film ini. Bisakah kita menerima segala perlakuan Darlene? Jika memang tidak, pantaskah Darlene menerima ganjarannya? Me You Them merupakan jenis film yang tak cukup ditonton sekali agar bisa memaknainya dengan tepat.

 

Video Terkait: