Siapa bilang laki–laki tak bisa paham ajaran feminis? Sedari dulu, rekan–rekan di Barat punya kalimat yang pas untuk itu, “You don’t have to be a woman to become a feminist”. Bahkan seorang sutradara seperti Martin Scorsese yang gemar menyajikan film penuh kekerasan, suatu waktu bisa juga membuat Alice Doesn’t Live Here Anymore (1974) ataupun The Age of Innocence (1993) yang beraroma feminisme. Sutradara Ridley Scott bahkan punya 3 karya yang dianggap sangat feminis: Alien (1979), Thelma & Louise (1991) dan G.I Jane (1997). Lewat Monalisa Smile, Mike Newell pun coba merontokkan opini yang masih berkembang di tengah masyarakat bahwa hanya wanita-lah yang mampu mengerti sesamanya.
Hanya saja, Monalisa Smile terasa ‘aneh’ karena menggunakan setting tahun 1950-an dengan penggunaan karakter heroine bernama Katherine Watson (Julia Roberts). Dia rasa–rasanya sulit untuk bisa menyesuaikan diri dengan jamannya. Ya, Watson digambarkan sebagai thinking forward liberal” wanita berpikiran maju beberapa tahun dari jaman yang dipijakinya. Dengan cara pandang sedemikian, Watson gampang berbenturan dengan ajaran yang dianut sebagian besar wanita masa itu: punya anak dan menikah, tanpa pernah mencoba memikirkan apakah itu benar–benar yang diinginkan oleh mereka. Apalagi ia mengajar di sekolah khusus wanita yang banyak mengajarkan wanita untuk menerima takdirnya ‘hanya’ sebagai istri dan ibu rumah tangga yang baik. Tidak lebih! Tapi di Wellesley College tempatnya mengajar, Watson yang sebenarnya datang untuk membuat perubahan, juga harus mengubah beberapa sudut pandangnya. Termasuk jalan berpikirnya yang menganggap bahwa tak ada yang lebih naif daripada seorang wanita yang hanya ingin menjadi seorang istri. Sampai suatu saat, ia disadarkan oleh muridnya sendiri, Joan (Julia Stiles) yang menganggap tak ada salahnya menikah dan punya anak jika hal itu memang diinginkannya.
Dalam waktu yang sedemikian sempit, Monalisa Smile coba–coba mengobrolkan banyak hal. Mungkin karena dikerjakan dua orang, Mark Rosenthal dan Lawrence Konner dengan segudang ide membuat Monalisa Smile jadi kehilangan fokus. Akhirnya, tema emansipasi wanita yang ingin dikedepankan hanya sayup terdengar. Tema itu tertutup persaingan antar wanita, percikan asmara, dan perselingkuhan. Skenario Monalisa Smile sesungguhnya sangat klise dan gampang ditebak arahnya. Syukur bisa ditutupi oleh pameran akting nan menawan dari hampir semua pemain utama.
Mengobrolkan akting Julia Roberts memang tak terlalu penting lagi. Toh semua orang tahu bahwa ia pandai berakting, bahkan disejajarkan dengan kualitas seorang Bette Davis, Jean Arthur, atau Claudette Colbert. Yang menarik dibicarakan adalah bagaimana seorang aktris muda bernama Maggie Gyllenhaal mampu menjadi scene stealer (pencuri adegan). Padahal perannya sebagai Giselle Levy tak banyak, tapi harus diakui Gyllenhaal sosok aktris muda yang terbilang cakap memainkan bahasa tubuh dan mimik wajah. Tak ada peran besar atau kecil untuknya. Di Secretary (2002) saja yang menuntutnya berperan ‘aneh’, ia tampak nyaman melakukannya.
Ternyata, judul provokatif yang dipilih film ini punya makna besar dibaliknya. Tentu tak asyik membicarakannya disini. Yang bisa dibocorkan hanyalah bahwa senyum Monalisa hanya milik Monalisa seorang -tak akan mampu ditandingi senyum fenomenal Julia Roberts sekalipun- di film ini cukup banyak diperlihatkannya. Senyum Monalisa sangatlah misterius, punya sejuta arti, menggugah orang untuk mengetahui rahasia di baliknya.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://stoedioportal.com/resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY