Universitas Almuslim Raih Bantuan Pembentukan Unit Layanan Disabilitas Kemdiktisaintek 2026
Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan berhasil meloloskan proposal pendanaan dan ditetapkan sebagai salah satu perguruan tinggi penerima bantuan Program Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kategori-1 Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek Nomor 1727/DST/B2/DT.00.03/2026 tertanggal 20 Mei 2026 yang ditandatangani oleh Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T. Dalam keputusan itu, terdapat 39 PTN/PTS di Indonesia yang menerima bantuan Kategori-1 (Pembentukan ULD) dan 28 PTN/PTS menerima Kategori-2 (Penguatan ULD).
Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd., membenarkan kabar baik tersebut. Ia menyampaikan rasa syukur atas respons positif dari kementerian terhadap usulan yang diajukan oleh tim kampus sejak penawaran program dibuka pada Februari 2026 lalu.
"Alhamdulillah, usulan tim kampus dalam pembentukan ULD mendapat respons positif. Kita berhasil menjadi salah satu penerima bantuan untuk kategori pembentukan ULD dari puluhan PTN/PTS yang diumumkan," ujar Dr. Marwan via pesan singkat WhatsApp, Rabu (20/5/2026) malam.
Sementara itu, Ketua Tim Pengusul Umuslim, Dr. Hera Yanti, M.Psi., menjelaskan bahwa proposal pembentukan ULD tersebut resmi diajukan pada 1 April 2026 dengan nilai pengajuan sekitar Rp30 juta.
Menurut Hera, program ini berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong perguruan tinggi untuk menyediakan pusat layanan pendukung, baik akademik maupun non-akademik, bagi mahasiswa disabilitas. ULD di kampus nantinya akan berfungsi menyediakan aksesibilitas, pendampingan belajar, advokasi, serta penguatan budaya inklusif.
Umuslim menjadi salah satu PTS di Aceh yang memenangkan bantuan ini. Penilaian tersebut didukung oleh karakteristik unik Umuslim sebagai kampus berbasis wakaf yang saat ini memiliki lima mahasiswa disabilitas aktif.
Kelimanya adalah M. Alwan F (disabilitas fisik), Husnul Khatimah (disabilitas sensori), Sinta Mahara (disabilitas sensori mata-telinga), Winni Rizkan Sara (disabilitas fisik), dan M. Ibnu Fatih Riski (disabilitas fisik).
"Keberadaan kampus kami tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai manifestasi nilai-nilai filantropi Islam dalam mendukung pembangunan SDM melalui akses pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan," pungkas Dr. Hera Yanti.