Home Jurnal \\\"Hablillah\\\": Landasan Agama dan Nasehat Tokoh NU untuk Persatuan Indonesia yang Beragam

\\\"Hablillah\\\": Landasan Agama dan Nasehat Tokoh NU untuk Persatuan Indonesia yang Beragam

51
0
SHARE
\\\"Hablillah\\\": Landasan Agama dan Nasehat Tokoh NU untuk Persatuan Indonesia yang Beragam

LAGU "KITA ADALAH SATU" karya Bang Haji Rhoma Irama dengan syairnya yang penuh semangat telah menjadi suara hati bangsa Indonesia, mengingatkan bahwa keragaman bukanlah penghalang melainkan pijakan kekuatan. 

Di balik pesan persatuan tersebut, terdapat landasan ajaran agama yang kokoh, tercermin dalam firman Allah SWT yang menyatakan "

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

" (QS. Ali Imran [3]: 103) yang artinya, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai". 

Ajaran ini, yang kemudian dikenal dengan istilah waktashimu bihablillah, menjadi pondasi spiritual bagi upaya menjaga persatuan di tengah keberagaman bahasa, budaya, dan agama yang menjadi ciri khas nusantara. Dukungan terhadap semangat ini juga tercermin dalam sejumlah nasehat dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang telah lama mengakar dalam khasanah kebangsaan. 

Artikel ini akan menguraikan makna dalil agama terkait, menghubungkannya dengan pesan lagu, serta menyajikan nasehat para tokoh NU sebagai panduan dalam menjaga persatuan bangsa.
 
*Makna Kata per Kata dari Dalil Alquran dan Hadits*
 
Pada QS. Ali Imran (3): 103, setiap kata memiliki makna yang mendalam. Kata ????????????? (wa'atsimmu) berarti "dan berpeganglah teguh", menekankan kesungguhan dan keteguhan hati. ???????? (bihablil) berasal dari kata habl yang berarti "tali", simbol dari sesuatu yang menyatukan dan mengikat. ??????? (Lilahi) menunjukkan bahwa tali yang menjadi landasan adalah agama Allah SWT, bukan kekuasaan, uang, atau kepentingan semata. ???????? (jami'an) berarti "semuanya", tidak ada pengecualian, mengajak seluruh umat manusia untuk bersatu. ????? ??????????? (wa la tafarraq?) berarti "dan janganlah kamu bercerai-berai", larangan yang jelas terhadap perpecahan.
 
Selanjutnya, QS. Al-Kafirun (109): 6 ?????? ????????? ?????? ????? (Lakum dinukum wa liya din) memiliki makna harfiah "untukmu agamamu dan untukku agamaku". Kata ?????? (lakum) berarti "untuk kamu", menegaskan hak setiap individu atas keyakinannya, sementara ?????? (wa liya) berarti "dan untukku", menunjukkan penghormatan terhadap perbedaan tanpa paksaan.
 
QS. Al-Hujurat (49): 13 ??? ???????? ???????? ?????? ????????????? ???? ?????? ?????????? ??????????????? ???????? ??????????? ????????????? (Ya ayyuh? nn?su inn? khalaqn?kum min dhakarin wa unth? wa ja'aln?kum shu'?ban wa qab?'ilan li ta'?raf?) berarti "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal". Kata ????????????? (li ta'?raf?) adalah inti dari ayat ini – keragaman diciptakan bukan untuk memecah belah, melainkan untuk saling mengenal dan menghargai.
 
Dalam hadits HR. Muslim.
 ????? ??????? ?????????
 ???????????? ??????????? ??????????? (Idh? buyyi'a lin-n?si khal?fat?n faqtul? ahadahum?) yang berarti "Jika dibai'at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang lain di antara keduanya", kata ??????????? (faqtl?) tidak hanya berarti tindakan fisik, melainkan juga menekankan pentingnya menghapus segala bentuk pembagian kekuasaan yang dapat menyebabkan perpecahan.

Hadits HR. Ahmad

 ???? ?????? ??? ?????? ?????? ????????? ?????? ?????? ????????? ???????????? ??????????? ???? ????? ?????? 
(Man sharaha f? amri h?dhih al-ummati wa hiya 'al? jam?'atin faq?tul?hu bis-sayfi man k?na minh?) yang berarti "Barangsiapa yang ingin memecah-belah perkara umat ini padahal mereka sedang bersatu, maka penggallah ia dengan pedang, siapa pun orangnya", menggunakan kata ?????? (sharaha) yang berarti "membuka celah" atau "memecah belah", menegaskan bahwa setiap upaya yang merusak persatuan adalah sesuatu yang harus dihadapi dengan tegas.
 
*Pesan Persatuan dalam Lagu dan Pandangan Ulama Indonesia*
 
Syair lagu "Kita Adalah Satu" yang menyatakan "Walau kita beda dalam bahasa walau kita beda dalam budaya walau kita beda dalam agama kita adalah satu" sejalan dengan makna dalil agama yang telah diuraikan. 

KH. Aceng Mujib dari Pondok Pesantren Al-Fauzan menjelaskan bahwa makna hablillah tidak hanya mengikat umat beragama secara internal, melainkan juga menjadi dasar untuk menjalin hubungan baik dengan sesama warga negara yang berbeda keyakinan. Menurutnya, setiap perbedaan adalah anugerah Allah yang harus dijadikan sarana untuk saling belajar dan memperkuat tali persaudaraan.
 
Ustadz Muchamad Arifin dari LDK PP Muhammadiyah menghubungkan ajaran Islam Wasathiyah dengan semangat persatuan bangsa. Ia menjelaskan bahwa prinsip tengah yang tidak condong ke ekstrem mana pun membuat umat Islam mampu menghargai keragaman, sesuai dengan makna QS. Al-Hujurat (49): 13 yang mengajak untuk saling mengenal.

Sementara itu, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa karya seni seperti lagu Rhoma Irama yang mengajak kepada persatuan adalah bentuk wujud nyata dari ajaran agama yang mengutamakan kebaikan bagi seluruh umat manusia, sesuai dengan makna waktashimu bihablillah yang mengajak untuk bersatu atas dasar nilai-nilai yang luhur.
 
Keragaman geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, gunung, dan laut juga tidak menjadi penghalang persatuan, seperti yang dinyatakan dalam lagu. Hal ini sejalan dengan pesan dalil agama bahwa jarak dan perbedaan bukanlah alasan untuk terpisah, karena tali agama yang mengikat adalah lebih kuat dari segala rintangan.
 
*Nasehat Para Tokoh Nahdlatul Ulama*
 
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU memiliki peran sentral dalam membangun semangat persatuan bangsa. Berikut adalah nasehat dari para tokohnya:
 
KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU)

Dalam karyanya Al Qanun Al Asasi, beliau menyatakan, “Tolong-menolong atau sikap saling membantu adalah pangkal keterlibatan umat Islam. Sebab, jika tidak ada tolong-menolong, maka semangat dan kemauan mereka akan lumpuh karena merasa tidak mampu mengejar cita-cita”. 

Beliau juga mengingatkan agar ulama tidak bermusuhan karena perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (cabang ajaran), dengan mengatakan, “Wahai para ulama, berhentilah dalam bermusuh-musuhan karena berbeda pendapat tentang masalah-masalah furu’iyyah, karena yang akan senang dengan kondisi ini adalah kaum kafir yang sedang menjejah negara ini. Ingat, kalian semua adalah saudara”.
 
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Ketua Umum NU & Presiden RI ke-4
Gus Dur selalu menekankan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Beberapa nasihatnya yang terkenal antara lain: “Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”, dan “Kita bisa berbeda dalam banyak hal, tapi kita tetap satu dalam Indonesia”. Beliau juga mengajak agar agama menjadi sumber kedamaian, bukan perpecahan.
 
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj – Mantan Ketua Umum PB NU.Kiai Said menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa plural yang berdiri karena komitmen bersama. Ia mengingatkan agar semua pihak saling bahu-membahu dan mengembangkan sikap saling menghormati, terutama di era digital yang mudah menyebarkan fitnah. Beliau juga menekankan bahwa Pancasila sebagai hasil rumusan kolektif sangat relevan untuk semua masyarakat, dan menjaga NKRI harus berdasarkan nilai-nilai pancasila serta kebhinekaan.
 
KH. Ma’ruf Amin – Mantan Wakil Presiden RI dan Mantan Ketua Umum MUI.
Beliau mendorong para ulama untuk bersatu dan tidak berjalan masing-masing demi misak rabbani (kesepakatan dengan Allah) dan misak wattani (kesepakatan nasional), karena kedua kesepakatan tersebut tidak saling menegasikan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk membawa umat ke jalan yang benar dan menjaga persatuan bangsa.
 
KH. Anwar Iskandar – Wakil Rais ‘Am PB NU dan Ketua Umum MUI
Kiai Anwar menjelaskan bahwa peran ulama dalam memperkuat persatuan sangat besar, salah satunya melalui pondok pesantren yang mencetak kader dengan ajaran Islam Wasathiyah yang mengedepankan kebersamaan. 

Beliau menegaskan bahwa pesantren telah berkontribusi besar dalam memantapkan nilai-nilai persatuan, sehingga Indonesia menjadi contoh bagi negara lain dalam mengelola keragaman.
 
KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) – Ketua Umum PB NU.Beliau menyatakan bahwa Hari Santri Nasional merupakan momentum untuk merawat persatuan bangsa, karena peran santri sangat penting dalam melahirkan dan mempertahankan NKRI. Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga tonggak peradaban manusia yang harus dijaga bersama.
 
Makna kata per kata dari dalil Alquran dan Hadits yang terkait dengan persatuan tidak hanya memberikan landasan spiritual, tetapi juga menjadi panduan praktis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lagu "Kita Adalah Satu" berhasil mengemas pesan agama ini ke dalam bentuk syair dan seni yang mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. 

Dukungan yang kuat juga datang dari nasehat para tokoh NU yang telah lama mengakar dalam khasanah kebangsaan, mengajak seluruh rakyat untuk menjunjung tinggi sikap saling menghargai dan gotong royong. 

Hablillah bukan hanya kalimat yang diucapkan, melainkan prinsip hidup yang harus dijunjung tinggi – berpegang teguh pada ajaran agama sambil menghargai keberagaman, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kuat karena persatuan yang dibangun di atas dasar nilai-nilai luhur. Semoga semangat ini terus hidup dan menjadi bagian dari identitas bangsa yang tak tergantikan.*Wallahul A'lam Bisshawab*