Home Polisi Pedagang Buang Dagangan Akibat Satpol PP

Pedagang Buang Dagangan Akibat Satpol PP

13
0
SHARE
Pedagang  Buang Dagangan Akibat Satpol PP

By lia Yulia

Takjil seorang ibu ditarik saat Ramadan. Dan dalam hitungan menit, negara terlihat lebih sibuk menertibkan yang kecil daripada membereskan yang besar.

Intinya bukan soal satu gerobak. Ini soal cara sistem bekerja: ketika aturan ditegakkan tanpa rasa, yang muncul bukan ketertiban—tapi luka sosial.

Kita bisa saja berhenti di amarah. Tapi coba lihat lebih dalam. Ada konflik kepentingan di sini: di satu sisi ada kewajiban penegakan perda, di sisi lain ada realitas ekonomi warga yang hidup dari momen musiman. Ketika kebijakan tidak lentur membaca konteks, yang jadi korban adalah mereka yang paling rapuh.

Konsekuensinya bukan cuma dagangan yang disita. Kepercayaan publik ikut terkikis. Dan begitu trust turun, legitimasi ikut goyah. Itu mahal harganya.

Pelajarannya apa?

Pertama, aturan tanpa empati akan selalu terlihat seperti kekuasaan tanpa hati. Kedua, manajemen lapangan bukan sekadar menjalankan SOP, tapi membaca situasi. Pemimpin yang kuat bukan yang paling keras menegakkan, tapi yang paling cermat menyeimbangkan ketertiban dan keadilan.

Ini bukan soal membela pedagang atau menyalahkan petugas. Ini soal desain sistem. Apakah kita punya mekanisme relokasi yang jelas? Apakah ada komunikasi preventif sebelum razia? Apakah target kinerja aparat hanya berbasis “penindakan”, bukan “penyelesaian masalah”?

Kalau jawabannya belum, berarti problemnya struktural—bukan personal.

Dan di sinilah isu politik berubah jadi isu manajemen publik. Negara yang efektif tidak sekadar hadir saat menertibkan, tapi hadir sejak merancang solusi. Bukan reaktif, tapi antisipatif.

Sekarang pertanyaannya ke kita semua:
Apakah kita ingin sistem yang hanya patuh pada teks aturan, atau sistem yang juga paham konteks warganya?

Silakan berbeda pendapat. Tapi mari bahas pada level kebijakan dan perbaikan sistem—bukan sekadar emosi. Karena kalau setiap kejadian hanya jadi bahan viral, kita kehilangan kesempatan menjadikannya bahan evaluasi.

Akun ini tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari pola apa yang perlu dibenahi.

Kalau diskusi seperti ini penting buat kamu, ikuti dan terlibatlah. Kita butuh ruang analisis yang konsisten—bukan cuma ramai sehari, lalu hilang besok pagi.