Home FILM Kisah Cinta Sepasang Pembunuh Sadis

Kisah Cinta Sepasang Pembunuh Sadis

Film Natural Born Killers [1994]

5
0
SHARE
Kisah Cinta Sepasang Pembunuh Sadis

Tak banyak yang mampu mengolah sesuatu yang fresh berbahan dasar hasil comot sana–sini. Di Indonesia, ada Helmy Yahya yang karya termutakhir-nya, Penghuni Terakhir dipujikan telah berhasil membawa reality show di Indonesia naik setingkat lebih tinggi. Padahal, siapapun tahu, Penghuni Terakhir bukan karya orisinal. Dengan cerdik, Helmy memadukan dua reality show menarik, Survivor dan Treasure Island. Kedua acara ini kemudian diadaptasi dengan kultur lokal, jadilah Penghuni Terakhir yang disambut meriah. Di Hollywood, ada Quentin Tarantino yang juga ‘bertingkah laku’ nyaris serupa. Melihat film–film yang telah dihasilkannya, tahulah kita betapa Tarantino sangat tergila–gila dengan cult movie, film tahun 70-an, B-movie, atau entah apalah namanya. Dan hawanya memang sangat terasa dalam beberapa judul filmnya. Begitupun, meniru bukan berarti tak bisa kreatif, dan Tarantino berhasil membuktikan itu. Ia bisa mengubah inspirasi dari film–film yang kadang dianggap film kelas dua, menjadi sesuatu yang fenomenal. Lihatlah Pulp Fiction (1994), Jackie Brown  (1997), Reservoir Dogs (1992) dan dwilogi Kill Bill (2003 & 2004). Sambutan para kritikus nyaris sebanding dengan perolehan pendapatan di box office.

Tapi, itu mungkin hanya bisa terjadi jika Tarantino bertindak sebagai penulis skenario dan sutradara sekaligus. Sepuluh tahun silam, Tarantino dibuat mangkel berat dengan hasil akhir Natural Born Killers (1994) yang ditulisnya. Padahal, yang duduk di kursi sutradara bukan pribadi sembarangan, Oliver Stone. Cuma itulah, sesekali seorang sutradara sekaliber Stone harus tergelincir menelurkan karya buruk yang dicaci maki pedas oleh kritikus. Peristiwa yang sama pun pernah menimpa Francis Ford Coppola yang amat dihormati berkat trilogi The Godfather ketika membesut Jack (dibintangi Robin Williams).

Padahal, sebenarnya kisah Natural Born Killers sangat menarik untuk dilayar-lebarkan. Ada sentuhan Bonnie & Clyde disitu. Mereka diakui sebagai duo penjahat legendaris di layar perak. Masalahnya hanya Stone menjadikan Natural Born Killers sebagai pelampiasan. Mungkin jika ia bisa sedikit saja meredam ego, maka Natural Born Killers bisa mendapatkan efek yang diinginkannya. Tapi itulah, Stone bagai seorang anak kecil yang akhirnya diberi kebebasan untuk bermain di luar rumah. Ia bereksperimen sesering mungkin, tak peduli apakah hasilnya akan memberi nyawa atau justru merusak suatu adegan, meningkahinya dengan berbagai teknik editing, mengimbuhinya dengan animasi, dan masih banyak lagi. Jadinya, penonton dengan mudah dibuat pusing dan susah untuk fokus dalam mencermati kisah yang ditawarkan.

Belum lagi, kekerasan tingkat tinggi yang menggempur layar, justru digambarkan tanpa emosi, sehingga bisa jadi penonton yang tak sensitif akan menangkap kepongahan sutradara dalam mengagung–agungkan kekerasan. Semua dipaparkan Stone dengan style yang berlebihan. Padahal, Mickey (Woody Harrelson) dan Mallory (Juliette Lewis) secara sadar melakukan semua itu. Keduanya bukan orang sinting, hanya merasa tak berdosa ketika melakukannya. Dan sebenarnya, karakter kedua tokoh ini dimainkan dengan cukup meyakinkan oleh Harrelson dan Lewis. Justru, mereka-lah tokoh yang terasa real dibanding tokoh–tokoh lain yang tampil sangat komikal.

Mungkin karena kecewa dengan hasil akhir Natural Born Killers, Tarantino mencoba ‘memperbaiki’-nya di Kill Bill Vol 1. Ya, kalau diperhatikan, style yang ditawarkan nyaris mirip, hanya Tarantino jauh lebih teliti dalam mengemasnya. Ia seperlunya mengumbar animasi, sesedikit mungkin menggunakan teknik gambar hitam putih, dan mengurangi pengambilan gambar memusingkan. Ya, apa boleh buat, kalau masih ingin membesut film sejenis, Stone mungkin memang harus berguru pada master-nya, Tarantino himself.

 

Video Terkait: