Home Spiritual Prabu Mangku Alam Siliwangi: Menggali Akar Spiritualitas Sunda sebagai Landasan Hidup di Era Disrups

Prabu Mangku Alam Siliwangi: Menggali Akar Spiritualitas Sunda sebagai Landasan Hidup di Era Disrups

39
0
SHARE
Prabu Mangku Alam Siliwangi: Menggali Akar Spiritualitas Sunda sebagai Landasan Hidup di Era Disrups

TARGET PERISTIWA BANDUNG,19 FEBRUARI 2026 – Di tengah pusaran disrupsi teknologi, perubahan sosial yang cepat, dan kompleksitas tantangan global, pencarian akan makna dan landasan hidup yang kokoh menjadi semakin relevan. Prabu Mangku Alam Siliwangi/H. Abdul kholik, SH.,MH., seorang tokoh spiritual dan masyarakat yang dihormati di Jawa Barat, menawarkan perspektif berharga yang berakar pada kearifan lokal Sunda. Melalui pemahaman mendalam tentang tiga konsep kunci dalam tradisi Sunda – Manunggaling Kawula Gusti, Mati Sak Jeroning Urip, dan Sangkan Paraning Dumadi – beliau memberikan panduan untuk menavigasi kehidupan modern dengan kebijaksanaan dan integritas. Penting untuk dicatat bahwa meskipun konsep-konsep ini universal, penafsirannya diwarnai oleh nilai-nilai budaya dan filosofi khas Sunda.

Profil Narasumber: Prabu Mangku Alam Siliwangi

Prabu Mangku Alam Siliwangi bukan hanya seorang tokoh spiritual, tetapi juga seorang intelektual dan aktivis sosial. Dengan latar belakang pendidikan hukum dan pengalaman luas dalam berbagai bidang, beliau memiliki kemampuan unik untuk menjembatani antara tradisi dan modernitas. Dedikasinya untuk memajukan masyarakat Jawa Barat tercermin dalam berbagai inisiatif yang berfokus pada pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian budaya Sunda. Beliau percaya bahwa spiritualitas yang sejati harus tercermin dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.

Membedah Konsep-Konsep Esensial (Perspektif Sunda):

- Manunggaling Kawula Gusti: Konsep ini seringkali disalahartikan sebagai upaya manusia untuk menjadi Tuhan. Namun, Prabu Mangku Alam Siliwangi menjelaskan bahwa dalam konteks spiritualitas Sunda, Manunggaling Kawula Gusti adalah tentang menyadari kesatuan esensial antara manusia dan Sang Pencipta, yang dalam tradisi Sunda dikenal dengan berbagai nama yang mencerminkan sifat-sifat-Nya. "Ini adalah tentang rumasa, merasa menjadi bagian dari karuhun (leluhur) dan alam semesta yang lebih besar, dan bahwa kita memiliki potensi untuk terhubung dengan sumber segala kehidupan," ujarnya. Kesadaran ini menumbuhkan rasa asih (cinta kasih) dan tanggung jawab untuk menjaga kahirupan (kehidupan) dan harmoni dengan alam serta dulur (sesama).

- Mati Sak Jeroning Urip: Konsep ini mengajak individu untuk melampaui keterikatan pada dunia material dan ego. Prabu Mangku Alam Siliwangi menekankan bahwa Mati Sak Jeroning Urip bukanlah tentang kematian fisik, melainkan tentang eling (kesadaran) dan waspada (kewaspadaan) terhadap godaan duniawi yang dapat menjauhkan kita dari jati diri (identitas sejati). "Ini adalah tentang ngaleungitkeun (menghilangkan) kamaksiatan (perbuatan buruk) dan nafsu (keinginan) yang berlebihan, sehingga kita dapat hidup dengan lebih berkah (diberkahi) dan sampurna (sempurna)," jelasnya. Proses ini melibatkan praktik-praktik seperti tatali paranti (menjaga tradisi), ngaji diri (introspeksi), dan tumut kana purwadaksi (mengikuti takdir).

- Sangkan Paraning Dumadi: Pertanyaan tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupan adalah inti dari konsep ini. Prabu Mangku Alam Siliwangi menjelaskan bahwa manusia berasal dari Hyang Kersa (Kehendak Tuhan) dan akan kembali kepada-Nya. "Kehidupan ini adalah lalampahan (perjalanan) spiritual untuk kembali kepada sumber kita. Oleh karena itu, kita harus menjalani hidup dengan amanah (tanggung jawab), sabar (kesabaran), tawakal (berserah diri), silih asih, silih asah, silih asuh (saling mencintai, mengasah, dan membimbing)," tuturnya. Memahami Sangkan Paraning Dumadi memberikan pituduh (petunjuk) dan tatapakan (pedoman) dalam menghadapi cocoba (ujian) dan karunia (berkah) dalam hidup.

Relevansi di Era Digital dan Tantangan Global:

Prabu Mangku Alam Siliwangi meyakini bahwa konsep-konsep spiritualitas Sunda ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan di era digital dan global. "Di tengah gempuran (serangan) budaya asing dan ajen inajen (nilai-nilai) yang seringkali mancog (bertentangan) dengan adat (kebiasaan) dan budaya (kebudayaan) kita, kita membutuhkan pancer (pusat) yang kuat untuk mempertahankan identitas (jati diri) kita," ujarnya. Manunggaling Kawula Gusti, Mati Sak Jeroning Urip, dan Sangkan Paraning Dumadi memberikan pijakan (landasan) yang kokoh untuk mengambil kaputusan (keputusan) yang adil (bijaksana) dan berkontribusi positip (positif) bagi balarea (masyarakat).

Pesan untuk Generasi Muda:

Kepada generasi muda, Prabu Mangku Alam Siliwangi berpesan untuk tidak poho (lupa) pada sajarah (sejarah) dan kautamaan (keutamaan) Sunda. "Jadilah generasi (turunan) yang luhur (tinggi), cerdas (pintar), dan kreatip (kreatif), tetapi jangan hilap (lupa) ajen-inajen (nilai-nilai) karuhun (leluhur) kita," katanya. Beliau mendorong generasi muda untuk diajar (belajar), ngarti (memahami), dan ngamalkeun (mengamalkan) konsep-konsep Manunggaling Kawula Gusti, Mati Sak Jeroning Urip, dan Sangkan Paraning Dumadi sebagai obor (obor) dalam ngajalankeun (menjalani) kahirupan (kehidupan) yang mibanda harti (bermakna) dan berkontribusi bagi kamajuan (kemajuan) bangsa (negara).

*red