Lagu "Kita Adalah Satu" karya Bang Haji Rhoma Irama dengan syairnya yang penuh semangat telah menjadi suara hati bangsa Indonesia, mengingatkan bahwa keragaman bukanlah penghalang melainkan pijakan kekuatan yang kokoh.
Sejak pertama kali dirilis, lagu ini telah meresap ke dalam hati nurani seluruh lapisan masyarakat, dari Sabang hingga Merauke, menjadi simbol semangat kebangsaan yang tak tergoyahkan.
Di balik pesan persatuan yang menggelegar ini terdapat landasan ajaran agama yang mendalam dan kuat, seperti firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran [3]: 103 yang menyatakan: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai... Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu adalah musuh-musuh, kemudian Allah menjadikan hati-hati kamu bersatu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara."
Ajaran ini, yang dikenal dengan istilah wa 'atsimmu bi hablillah, menjadi pondasi spiritual bagi upaya menjaga persatuan bangsa di tengah keragaman bahasa, suku, budaya, dan keyakinan yang menjadi ciri khas nusantara.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki akar sejarah panjang sejak awal kemerdekaan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran sentral dan tak tergantikan dalam membangun serta mengamalkan semangat persatuan ini. Gerakan NU yang berakar pada masyarakat desa dan memiliki jutaan pengikut di seluruh pelosok negeri telah lama menjadikan persatuan sebagai salah satu pijakan utama dalam kegiatannya, yang juga sejalan dengan pesan lagu yang mengajak seluruh rakyat untuk bersatu meskipun memiliki perbedaan yang beragam.
PANDANGAN ULAMA NU TERKAIT PERSATUAN
Syair lagu "Kita Adalah Satu" yang menyatakan "Walau kita beda dalam bahasa walau kita beda dalam budaya walau kita beda dalam agama kita adalah satu" sejalan dengan ajaran yang telah lama digalakkan oleh para ulama NU.
Ajaran ini tidak hanya menjadi teori dalam kitab kuning, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai aktivitas keagamaan, sosial, dan pendidikan yang dilakukan oleh ribuan pondok pesantren di seluruh Indonesia.
KH. Aceng Mujib dari Pondok Pesantren Al-Fauzan menjelaskan bahwa makna hablillah tidak hanya mengikat umat beragama secara internal dalam lingkungan keagamaan, melainkan juga menjadi dasar filosofis untuk menjalin hubungan baik dan harmonis dengan sesama warga negara yang berbeda keyakinan.
Menurutnya, setiap perbedaan yang ada di antara kita adalah anugerah dan karunia Allah SWT yang harus dijadikan sarana untuk saling belajar, saling mengisi, dan memperkuat tali persaudaraan yang telah terjalin sejak zaman nenek moyang kita berjuang bersama untuk meraih kemerdekaan.
Selain itu, ajaran Islam Wasathiyah yang menjadi ciri khas pemikiran NU membuat umat muslim mampu menghargai keragaman dan hidup berdampingan dengan damai.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13 yang mengajak seluruh manusia untuk saling mengenal dan menghormati perbedaan. Para ulama NU juga mengakui bahwa karya seni seperti lagu Rhoma Irama yang mengajak kepada persatuan merupakan bentuk wujud nyata dari ajaran agama yang mengutamakan kebaikan bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi satu kelompok tertentu.
NASEHAT PARA TOKOH NAHDLATUL ULAMA
Berikut adalah nasehat dari para tokoh NU yang menjadi panduan berharga dalam menjaga dan memperkuat persatuan bangsa Indonesia:
KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU).
Dalam karyanya yang berjudul Al Qanun Al Asasi, beliau menyatakan dengan tegas:
"Tolong-menolong atau sikap saling membantu adalah pangkal keterlibatan umat Islam dalam membangun kehidupan berbangsa. Sebab, jika tidak ada tolong-menolong dan gotong royong, maka semangat dan kemauan mereka akan lumpuh karena merasa tidak mampu mengejar cita-cita bersama." Selain itu, beliau juga mengingatkan agar para ulama tidak terjebak dalam perpecahan karena perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyyah (cabang ajaran), dengan mengatakan: "Wahai para ulama, berhentilah dalam bermusuh-musuhan karena berbeda pendapat tentang masalah-masalah furu’iyyah, karena yang akan senang dengan kondisi ini adalah mereka yang tidak menginginkan kebaikan bagi bangsa kita. Ingat, kalian semua adalah saudara yang memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun negeri yang makmur dan sejahtera."
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Ketua Umum NU & Presiden RI ke-4
Gus Dur, yang dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai keberagaman, selalu menekankan bahwa keberagaman bukanlah beban melainkan kekuatan yang harus dijaga dengan baik.
Beberapa nasihatnya yang terkenal dan terus menginspirasi masyarakat adalah: "Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu atau dari mana kamu berasal" dan "Kita bisa berbeda dalam banyak hal – mulai dari bahasa yang kita gunakan hingga cara kita menjalankan ibadah – tapi kita tetap satu dalam tanah air Indonesia yang kita cintai." Beliau juga secara konsisten mengajak agar agama menjadi sumber kedamaian dan kebaikan, bukan alat untuk memecah belah bangsa.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj – Mantan Ketua Umum PB NU.
Kiai Said menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa plural yang kuat berdiri karena komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Ia mengingatkan agar semua pihak, tanpa memandang latar belakang, saling bahu-membahu dan mengembangkan sikap saling menghargai serta menghormati perbedaan. Hal ini menjadi semakin penting di era digital saat ini yang mudah menyebarkan informasi salah dan fitnah yang dapat merusak persatuan. Beliau juga menekankan bahwa Pancasila sebagai dasar negara yang merupakan hasil rumusan kolektif sangat relevan untuk semua masyarakat Indonesia, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus selalu berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila serta semangat kebhinekaan yang telah menjadi budaya bangsa.
KH. Ma’ruf Amin – Mantan Wakil Presiden RI dan Mantan Ketua Umum MUI
Beliau mendorong para ulama dan seluruh komponen masyarakat untuk bersatu dan tidak berjalan masing-masing demi mencapai dua tujuan utama, yaitu misak rabbani (kesepakatan dengan Allah SWT untuk menjalankan ajaran agama dengan benar) dan misak wattani (kesepakatan nasional untuk membangun bangsa yang adil dan makmur). Menurutnya, kedua kesepakatan tersebut tidak saling menegasikan justru saling melengkapi dan menjadi tanggung jawab bersama untuk membawa umat manusia ke jalan yang benar serta menjaga persatuan bangsa dari segala bentuk ancaman.
KH. Anwar Iskandar – Wakil Rais ‘Am PB NU dan Ketua Umum MUI
Kiai Anwar menjelaskan bahwa peran ulama dalam memperkuat persatuan bangsa sangat besar dan strategis, salah satunya melalui lembaga pendidikan pondok pesantren yang telah lama menjadi tempat pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan. Para santri yang belajar di pondok pesantren diajarkan ajaran Islam Wasathiyah yang mengedepankan kebersamaan, toleransi, dan cinta tanah air. Menurutnya, pesantren telah berkontribusi besar dalam memantapkan nilai-nilai persatuan di tengah masyarakat, sehingga Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia dalam mengelola keragaman dengan baik.
KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) – Ketua Umum PB NU.
Beliau menyatakan bahwa Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober merupakan momentum yang sangat berharga untuk merawat dan memperkuat persatuan bangsa. Hal ini karena peran santri telah terbukti sangat penting dalam melahirkan semangat perjuangan kemerdekaan serta mempertahankan keutuhan NKRI dari berbagai tantangan. Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati saat ini bukan hanya peristiwa politik semata, tetapi juga tonggak sejarah peradaban manusia yang harus dijaga dan lestarikan bersama oleh seluruh generasi.
Nasehat para tokoh NU yang telah lama mengakar dalam khasanah kebangsaan terus menginspirasi seluruh rakyat Indonesia untuk menjunjung tinggi sikap saling menghargai, gotong royong, dan kerja sama yang erat. Prinsip hablillah yang menjadi pondasi ajaran agama bukan hanya kalimat yang diucapkan dalam ibadah, melainkan prinsip hidup yang harus dijunjung tinggi dalam setiap aspek kehidupan – berpegang teguh pada ajaran agama yang benar sambil menghargai keberagaman yang ada, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan makmur karena persatuan yang dibangun di atas dasar nilai-nilai luhur dan cinta tanah air.*Wallahul A'lam Bisshawab*





LEAVE A REPLY