Home FILM Keberanian Slank, Eksplorasi Garin Nugroho

Keberanian Slank, Eksplorasi Garin Nugroho

Film Generasi Biru [2009]

5
0
SHARE
Keberanian Slank, Eksplorasi Garin Nugroho

Di kejauhan, kamera menangkap ribuan penonton. Sebagian besar diantaranya laki-laki, ikut melantunkan lagu Ku Tak Bisa. Lalu kamera bergerak menyorot penonton satu demi satu. Tampaklah seorang lelaki dengan tongkrongan laiknya Slankers lainnya ikut larut dalam riuh di siang itu. Namun ia tampak menarik perhatian dari kamera. Ternyata, matanya basah. Basah oleh air mata yang bercucuran di pipinya. Dan ia tampak tak malu. Dengan lantang ia terus bernyanyi.

“Ku tak bisa … jauh … jauh … darimu …”

Momen ini bisa jadi adegan paling emosional dari film Generasi Biru. Dibesut oleh trio sutradara Garin Nugroho, John De Rantau, dan Dosy Umar, film itu mencoba menangkap esensi lagu demi lagu yang pernah dihasilkan band terbesar Indonesia itu. Ia membongkar lirik demi lirik, lantas disatukan dengan video dokumentasi perjalanan panggung Slank di berbagai kota, juga wawancara dengan Slankers yang ratusan ribu jumlahnya, tersebar di penjuru nusantara. Karena ini adalah karya Garin Nugroho, maka tak bisa dielakkan satu kata yang sinonim dengan sutradara bereputasi internasional itu: eksplorasi.

Ya, eksplorasi menjadi elemen mendasar film ini. Maka terjemahkanlah eksplorasi sebagai kebebasan berekspesi atau kemerdekaan mencampurbaurkan sejumlah elemen seni di dalamnya. Ini kosa kata yang sama sekali tak baru bagi Garin. Opera Jawa menjadi film paling mengesankan darinya, jika dipandang dari sudut pandang penjelajahan ide. Lantas di posisi manakah Generasi Biru akan mendudukan Garin?

Mari kita coba kupas kulit demi kulit film Generasi Biru. Film ini terasa riuh karena Garin, John dan Dosy membuat adonan yang terdiri dari dokumentasi, lagu, animasi, hingga seni gerak. Sampai disini, tahulah kita bahwa kreatifitas Garin akan terus bergejolak. Opera Jawa belum menyentuh dokumentasi, sementara Generasi Biru dengan berani mempermainkannya. Maka penonton, terutama penonton mainstream, wajib menyiapkan mental untuk memasuki dunia yang dibangun olehnya.

Memang tak mudah menggabungkan berbagai elemen itu, terutama dengan lagu demi lagu dari Slank dengan daya jelajah ide yang juga cukup luas. Begitupun, dengan bijak Garin mencoba memilah-milah lagu yang pas keinginannya untuk mengkritik. Yes, Generasi Biru menjadi corong bagi Garin, terutama bagi Slank, untuk memperjelas kritik yang selama ini telah berseliweran di beragam saluran. Ada gambar Munir terpampang di salah satu adegan, lantas ada animasi lezat yang menyiratkan perlawanan rakyat dan digabung dengan gerak tari Slank yang dibantu Nadine Chandrawinata.

Di beberapa segi, Generasi Biru mengingatkan kita pada Across The Universe karya Julie Taymor. Bukan dari segi struktur cerita, namun bagaimana kedua sutradara memaksimalkan sejumlah elemen seni demi mendorong esensi yang ingin disampaikan ke penonton. Dalam Across The Universe, Taymor berhasil mengorkestrasi musik, tari, hingga animasi dengan spirit damai The Beatles. Gerak tari yang disampaikan tak sulit dicerna, terutama karena skenario memberi ruang pada penceritaan konvensional. Dan disitulah mungkin kelemahan (atau kelebihan?) dari Generasi Biru. Kadang kita paham apa maksud gerak yang dikoreografi oleh Eko Supriyanto itu. Di lain waktu, kita mengernyitkan kening begitu dalam karena tak mengerti apa maknanya.

Jelaslah sudah bahwa Generasi Biru ada pada tataran sebagai film ‘untuk dikagumi’, bukan untuk ‘dinikmati’. Dan Slank selaiknya paham betul ketika mereka akhirnya memilih untuk bekerjasama dengan Garin. Jelas sudah ini bukan film bagi para Slankers yang lebih banyak berada di kantong-kantong wilayah kabupaten. Tapi bisa saja ini langkah cerdik band yang bermarkas di Potlot itu untuk memperluas basis penggemarnya. Karena saya yang awalnya secara sambil lalu mengagumi Slank, akhirnya bisa jadi meningkat sebagai pengagum berat band itu setelah ini. Karena saya merinding mendengarkan Bendera ½ Tiang yang dipadukan adegan rentetan senjata dan tendangan sepatu tentara di peristiwa kerusuhan Mei 1998. Jika memang ini keberanian Slank, maka keberanian itu berhasil. Kali ini keberanian berkolaborasi dengan eksplorasi menemukan muaranya.

Video Terkait: