Home Pemerintah Kementan Pacu Kemandirian Pangan: Sektor Peternakan Digenjot, Kesejahteraan Peternak Jadi Prioritas

Kementan Pacu Kemandirian Pangan: Sektor Peternakan Digenjot, Kesejahteraan Peternak Jadi Prioritas

31
0
SHARE
Kementan Pacu Kemandirian Pangan: Sektor Peternakan Digenjot, Kesejahteraan Peternak Jadi Prioritas

TARGET PERISTIWA JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah strategis untuk memperkokoh fondasi kemandirian pangan nasional melalui penguatan subsektor peternakan dan kesehatan hewan. Inisiatif ini bukan hanya sekadar upaya memenuhi kebutuhan protein masyarakat, tetapi juga ikhtiar meningkatkan kesejahteraan peternak, menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan, dan menjamin kepastian pasar.
 
Dalam forum diskusi daring yang digelar bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Rabu (18/2/2026), Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainudin, menegaskan komitmen pemerintah dalam mewujudkan visi tersebut. Diskusi ini menjadi respons atas dinamika kebutuhan protein masyarakat yang terus meningkat, serta tantangan ketergantungan impor yang perlu diatasi.
 
Nuryani menekankan bahwa penguatan sektor peternakan akan membawa dampak signifikan bagi peternak, membuka lebar pintu peluang usaha, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. “Tugas utama kami adalah memastikan protein hewani tersedia, aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) di setiap mata rantai pasok. Lebih dari itu, kami ingin menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembangnya usaha peternakan,” ujarnya dengan penuh semangat.
 
Lebih lanjut, Nuryani menjelaskan bahwa subsektor peternakan bukan hanya sekadar penyedia pangan, tetapi juga mesin penggerak kesejahteraan peternak dan lokomotif ekonomi nasional.
 
Saat ini, Indonesia mencatatkan surplus pada dua komoditas utama, yaitu daging ayam ras (0,12 juta ton) dan telur ayam ras (0,17 juta ton). Surplus ini menjadi modal berharga bagi peternak untuk memperluas jangkauan pasar domestik, merambah pasar ekspor, serta berkontribusi dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
 
“Surplus yang kita miliki harus dikelola secara cerdas melalui penguatan hilirisasi dan ekspansi ekspor. Sementara untuk komoditas yang masih defisit, kita akan fokus pada peningkatan populasi, peningkatan produktivitas, dan investasi peternakan yang terarah,” imbuhnya.
 
Salah satu langkah konkret yang diambil pemerintah adalah Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi, sebuah inisiatif strategis nasional yang dirancang untuk memperkuat seluruh rantai usaha peternak, mulai dari pembibitan hingga pemasaran. Groundbreaking program ini telah dilaksanakan di enam lokasi strategis pada 6 Februari lalu, menandai komitmen serius pemerintah dalam mewujudkan hilirisasi peternakan.
 
Untuk komoditas yang masih mengalami defisit, seperti daging sapi dan susu, pemerintah telah menyiapkan strategi jitu untuk meningkatkan populasi dan produktivitas. Strategi ini meliputi penyediaan lahan yang memadai, penguatan investasi yang berkelanjutan, serta dukungan pembiayaan yang mudah diakses, termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang sangat ringan.
 
Kementan juga tengah merampungkan Program Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN), yang akan segera diresmikan melalui Instruksi Presiden. Program ini akan menjadi platform kolaborasi antara pemerintah, investor, koperasi, BUMN, dan peternak, dengan tujuan memberikan kepastian usaha dan meningkatkan daya saing peternak rakyat.
 
Di sisi kesehatan hewan, Kementan tidak main-main dalam melindungi usaha peternak dari ancaman penyakit. Alokasi 4 juta dosis vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan ternak.
 
“Pengendalian penyakit adalah fondasi utama. Tanpa ternak yang sehat, produksi tidak akan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh pemerintah daerah untuk turut mendukung program vaksinasi ini,” tegas Nuryani.
 
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Barat, Joko Trianto Nugroho, memberikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan hilirisasi dan program MBG, yang dinilai memberikan dampak positif bagi peternak rakyat.
 
“Kebutuhan ayam dan telur yang stabil melalui program MBG akan membantu menstabilkan harga dan memulihkan usaha peternak,” ungkap Joko.
 
Dengan dukungan pemerintah yang semakin kuat, Joko optimistis bahwa peternak rakyat akan semakin berdaya saing dan mampu menjadi tuan di kandangnya sendiri.
 
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa penguatan subsektor peternakan merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam melindungi peternak, menjaga keberlanjutan usaha, dan memastikan produksi protein hewani nasional terus meningkat secara berkelanjutan.(red)